Jumat, 29 Februari 2008
MENERAWANG PASCA KEMATIAN, BERANIKAH?
Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Suatu saat, ketika ajal menjemput kita, maka terjadilah perpindahan alam itu, suka atau tidak, kita pasti akan memasuki alam kubur (barzakh), dan kemudian alam akhirat.
Rasulullah Saw., sebagaimana dikutip oleh Ibnu ‘Arabi dalam kitab Wasiat-wasiat Ibnu ‘Arabi bersabda : “Sesungguhnya dunia pergi dengan cepat, dan akhirat segera datang dengan menghiasi dirinya. Ketahuilah bahwa di dunia inilah saatnya engkau beramal dan bukan saatnya dihisab. Sebentar lagi, engkau akan berada pada Hari Perhitungan dan bukan saatnya beramal. "
Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan juga yang dibenci-Nya, dan memberikan akhirat hanya kepada orang-orang yang dicintai-Nya.
Ketahuilah bahwa dunia mempunyai anak-anak dan akhirat pun demikian juga. Jadilah engkau anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Keburukan yang paling aku takutkan menimpa diri kalian ialah mengikuti dan mengumbar hawa nafsu serta berangan-angan panjang.
Mengikuti hawa nafsu bisa memalingkan qalbu dari kebenaran, dan panjang angan-angan mengarahkan perhatian pada dunia. Tidak ada kebaikan bagi seseorang di dunia tanpa kebaikan di akhirat.”
Berkenaan tentang siksa kubur Rasulullah Saw. diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit dalam Shahih Muslim ketika Nabi Saw. berada di sebidang kebun Bani Najjar mengendarai keledai, kami ada bersama beliau. Tiba-tiba keledai itu membelok sehingga beliau hampir terjatuh. Kiranya di sana terdapat empat atau enam kuburan.
Beliau bertanya,” Siapakah di antara kalian yang tahu, kuburan-kuburan siapakah ini?” Seorang laki-laki menjawab,”Aku.”, “Kapankah mereka meninggal?, Tanya beliau lagi. “Mereka mati ketika masih dalam kemusyrikan”. Kemudian beliau bersabda, “ Mereka sedang disiksa dalam kubur. Seandainya aku tidak khawatir kamu semua akan takut menguburkan mayat karena itu, niscaya akan kumohonkan kepada Allah Ta’ala supaya Dia memperdengarkan kepadamu sekalian bagaimana dahsyatnya siksa kubur seperti yang terdengar olehku.”
Kemudian beliau hadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda,” Berlindunglah kamu kepada Allah dari siksa neraka.” Kata para sahabat,” Kami berlindung kepada Allah dari siksa neraka.” Sabda beliau, “ Berlindunglah kamu sekalian kepada Allah dari siksa kubur.” Kata para sahabat,” Kami berlindung kepada Allah dari siksa kubur.” Sabda beliau, “ Berlindunglah kamu sekalian kepada Allah dari fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.” Kata para sahabat,” Kami berlindung kepada Allah dari fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.” Sabda beliau,” Berlindunglah kamu semua dari fitnah (bencana) Dajjal.” Kata para sahabat,” Kami berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim No. 2444)
Sayyidina Ali bin Abu Thalib kw., dalam Nahjul Balaghah berkata tentang dunia dan alam kubur sebagai berikut : “Dunia ini adalah perkampungan yang dilingkungi bala’ dan pengkhianatan. Tak pernah langgeng ihwalnya, tak pernah selamat penghuninya. Suaranya selalu bergantian, masa-masanya selalu berubah-ubah. Hidup di dalamnya tercela, keamanan di dalamnya tak pernah terwujud. Para penghuninya adalah sasaran yang selalu terancam oleh dunia itu sendiri, yang melempari mereka dengan panah-panahnya dan membinasakan mereka dengan kematiannya.
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa kamu sekalian serta segala yang kamu miliki dari dunia ini, berada di jalan orang-orang sebelum kamu yang telah pergi meninggalkannya. Yaitu mereka yang lebih panjang usianya dari pada kamu; lebih makmur kediamannya dan lebih banyak bekas peninggalannya.
Suara-suara mereka kini hilang lenyap, kegiatan mereka terhenti, tubuh-tubuh mereka hancur luluh, rumah-rumah mereka sunyi-sepi dan peninggalan-peninggalan mereka kini hanyalah reruntuhan. Istana-istana mereka yang dibangun megah dengan permadani-permadani yang terhampar rapi, kini berganti dengan batu-batu sandaran yang keras serta kuburan-kuburan dalam tanah terbelah yang dibangun berandanya dengan debu kehancuran.
Betapa mungkin mereka saling berkunjung, sedangkan jasad-jasad mereka telah dihancur-luluhkan oleh kerapuhan dan diremuk-redamkan oleh tanah dan bebatuan.
Kini, bayangkanlah seolah-olah kalian sendiri telah menjadi seperti mereka. Tertahan di atas tempat pembaringan seperti itu, terkungkung dalam ruangan persimpanan tertutup rapat. Apa kiranya yang akan kalian lakukan apabila telah mencapai akhir perjalanan, saat tanah-tanah pekuburan diputar-balikkan dan kalian dibangkitkan kembali di padang Mahsyar?”
Hal ini diperkuat dengan firman Allah SWT. berikut :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk(isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat--ayat Allah) dan mereka mempunyai mata(hati), (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga(hati), (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. 7 : 179).
Duhai pembaca yang budiman, masihkan keterbatasan usia kehidupan ini akan kita sia-siakan dengan hal-hal yang menghilangkan kesempatan perolehan bekal ‘perjalanan’ kita ke alam berikutnya? Tentu orang yang masih waras pikirannya akan menjawab: Tidak!
Dengan membiasakan mengenang kematian, seseorang akan dapat melembutkan qalbunya. Kelembutan qalbu dan kejernihan pikiranlah yang akan membuat kita mampu mensikapi kondisi masyarakat sekarang ini dengan penuh kedewasaan dan upaya mencarikan solusi krisisnya.
Namun menerawang ke fase kehidupan setelah kematian memerlukan keberanian mental seseorang. Nah sidang pembaca yang budiman, beranikah Anda? Wallahu A’lam.
FAQIR DAN GHANIY
Suatu Renungan tentang Hakikat Kaya dan Faqir
. . . .
Ilahi
kefakiranku tak kan terkayakan kecuali dengan cinta dan kebaikan-Mu
ketakutanku tak kan tertenangkan kecuali dengan kepercayan-Mu
keinginanku tak kan terpenuhi kecuali dengan anugerah-Mu
keperluanku tak kan tertutupi kecuali dengan karunia-Mu
kebutuhanku tak kan tercapai oleh selain-Mu
. . . .
(Ali bin Husein Zainal Abidin )
Di saat krisis semacam ini masih bisakah kita melantunkan doa seperti kutipan bait di atas?
Membicarakan kekayaan atau sesuatu yang mengenainya di saat krisis ekonomi mungkin mengundang pertanyaan di benak kita, masih adakah orang yang merasa kaya saat ini?
Pengertian orang kaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah 1) orang yang mempunyai banyak harta; 2) berkuasa; 3) mengandung banyak sesuatu/harta. Bila kita gunakan definisi tersebut, nampaknya kita masih akan melihat orang-orang kaya tersebut. Namun bila kita tanyai mereka satu-per satu belum tentu yang bersangkutan ‘merasa kaya’!.
Perasaan kaya, merasa cukup atas yang dimiliki adalah suatu sifat mulia. Seseorang yang merasa cukup atas apa yang telah diterimanya dari Allah SWT pada umumnya akan terhindar dari keserakahan, ketamakan, rasa iri terhadap kesenangan orang lain.
Sebaliknya bila seseorang belum merasa cukup atas apa-apa yang telah dimilikinya -- meskipun berupa timbunan emas, permata, dan milyaran dolar uang --, potensi keserakahan akan mudah tumbuh subur dalam jiwanya. Keserakahanlah yang menyebabkan seseorang di saat krisis seperti ini melakukan penimbunan barang-barang yang sangat dibutuhkan masyarakat, dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi yang berlimpah.
Berita-berita di media massa yang kita dengar menunjukkan kepada kita bahwa keserakahan itu masih terdapat di sekitar kita. Beruntunglah kita bahwa berita tersebut juga diiringi dengan makin maraknya kegiatan-kegiatan kepedulian kepada kaum dhu’afa, dengan aksi-aksi pembagian atau bursa murah kebutuhan-kebutuhan pokok.
Hakikat Kaya
Orang-orang suci di kalangan penempuh jalan tasawuf berpendapat bahwa kekayaan yang sebenarnya (ghina) hanyalah milik Allah SWT. -- yang sempurna dalam segala sifatnya. Menurut Al Hujwiri, dalam kitabnya Kasyful Mahjub, kekayaan Allah -- yang Diri-Nya adalah Pembuat segala sebab -- terletak pada Kebebasan-Nya dari segala sesuatu apa pun dan Kekuasaan-Nya untuk berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Kekayaan tersebut bersifat kekal selamanya.
Sedangkan kekayaan manusia bersifat pasif, hanyalah suatu titipan dari Yang Maha Kaya tersebut. Orang kaya adalah dia yang diperkaya oleh Allah (al-ghina man aghnahullah) sebab istilah “kaya dalam Allah” menunjuk kepada pelaku (fa’il), sedangkan istilah “diperkaya oleh Allah” berarti orang yang dikenai tindakan (maf’ul). Yang pertama adalah mandiri, sedangkan yang kedua keberadaannya bergantung kepada Sang Pemberi.
Ketergantungan seseorang pada sesuatu berawal dari kebutuhannya terhadap sesuatu. Kebutuhan tersebut berawal dari timbulnya keinginan-keinginannya terhadap sesuatu, baik bersifat material maupun spiritual.
Ali bin Abu Thalib kw. dalam Nahjul Balaghah berkata,”Semulia-mulia kekayaan milik pribadi adalah meninggalkan banyak keinginan.” Keinginan yang beraneka-macamlah yang menyebabkan kita kesulitan merasa cukup atas apa yang telah ada pada diri kita. Mengurangi keinginan juga berarti berkurangnya kebutuhan kita pada hal-hal yang berlebihan dalam kehidupan.
Dalam bagian lainnya beliau katakan,”Berbahagialah siapa yang selalu ingat akan Hari Akhir, beramal untuk menghadapi Hari Perhitungan (Yaum Al-Hisab) dan merasa puas dengan ala kadarnya, sementara ia ridha sepenuhnya dengan pemberian Allah.”
Pengikatan pikiran kita terhadap Allah, Hari Akhir akan menyebabkan kerangka berpikir kita dalam menyelesaikan problematika kehidupan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Hikmah lainnya adalah berkurangnya ketergantungan kita kepada selain-Nya.
Ketidak-tergantungan kepada sesuatu selain Allah, menurut para penempuh jalan kesucian merupakan sarana yang paling utama agar seseorang ‘diperkaya’ oleh Allah SWT. Sehingga bukan banyak sedikitnya harta benda yang ada pada tangan kita yang menjadi ukuran kekayaan. Namun, kadar ketergantungan kita kepada Allah, dan keterlepasan kita pada ketergantungan kepada selain-Nya yang menentukan seseorang ‘kaya’ atau fakir.
Puas Atas Pemberian Allah
Abu Abdullah Ash-Shadiq r.a. -- seorang alim ulama yang saleh --, dalam kitab Lentera Ilahi-nya mengatakan bahwa jika orang yang puas hatinya terhadap karunia Allah bersumpah bahwa pada akhirnya, ia akan menguasai kedua dunianya (sekarang dan akhirat), Allah akan membenarkannya dalam hal itu dengan mewujudkan harapannya melalui kebesaran rasa kepuasannya.
Bagaimana dapat seorang hamba Allah tidak merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya, sedang Dia telah berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az Zukhruf 43: 32).
Barangsiapa menyerahkan segala urusannya kepada Allah, dan tidak bersikap sembrono dalam mematuhi segala hal yang dikehendaki-Nya setiap saat, serta mempunyai keyakinan terhadap Tuhannya, ia tentu menganggap bahwa segala sesuatu yang diterima oleh setiap manusia berasal dari Allah SWT, dan tidak mengakui realitas sebab-sebab selain-Nya.
Bila seseorang telah mencapai derajat merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya, maka ia akan dibebaskan Allah dari kesusahan, kesedihan dan keletihan dalam kehidupannya.
Setiap kali kepuasannya menurun, nafsunya meningkat. Keserakahan akan dunia ini merupakan akar setiap kejahatan. Orang yang serakah tidak akan diselamatkan dari api Neraka, kecuali jika ia bertobat dengan penuh kesungguhan (taubat an-nashuha).
Itulah sebabnya, Nabi saw. bersabda,”Kepuasan adalah suatu kerajaan yang tidak akan punah.” Kepuasan merupakan kapal ridha Allah, mengangkut siapa pun yang menumpang di atasnya menuju Rumah Allah. Sehingga kita senantiasa dianjurkan untuk memiliki keyakinan pada apa yang belum diberikan kepada kita, dan rasa puas pada apa yang telah diberikan.
Kefakiran Hakiki
Pembahasan tentang kekayaan pada umumnya tidak dapat terlepas dari lawannya, yaitu kefakiran. Kefakiran mempunyai bentuk (rasm) dan hakikat. Bentuknya adalah kemiskinan, sedangkan hakikatnya adalah keberuntungan dan pilihan bebas. Dia yang memandang bentuk, bertumpu pada bentuk, dan karena gagal mencapai sasarannya, lari dari hakikat. Namun, dia yang menemukan hakikat, mencegah pandangannya dari semua ciptaan, dan dalam peniadaan segala selain-Nya dengan sempurna. Karena hanya dengan memandang kepada Yang Maha Esa, maka dia menuju hidup yang kekal.
Nabi saw. dalam salah satu riwayat bersabda, “Pada Hari Kebangkitan, Allah akan berkata, ‘Bawalah olehmu orang-orang yang Kucintai mendekat kepada-Ku’; kemudian malaikat-malaikat akan berkata,’Siapakah orang-orang yang Kau cintai?’ Allah pun menjawab,’Orang-orang fakir dan yang tak punya’.”
Dalam pandangan Farid Al-Din ‘Aththar, kefakiran merupakan rangkaian tahapan dari perjalanan spiritual seorang mu’min. Tahapan tersebut adalah thalab (pencarian), ‘isyq (cinta), ma’rifah (pengenalan), istighna’ (merasa puas), faqr (kefakiran) dan fana’ (lebur). Pembahasan tentang selain kefakiran dan merasa puas bukanlah tujuan dari tulisan ini, sehingga tidak akan kita perpanjang di sini.
Al Quran menggambarkan sifat orang fakir ini sebagai berikut, “... orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak... ” (QS. Al Baqarah 2: 273)
Abul Al Hasan Nuri, sebagaimana dikutip oleh Al Hujwiri dalam Kasyful Mahjub menggambarkan ciri seorang yang fakir adalah bilamana dia tidak memperoleh apa pun, dia diam; dan bilamana dia memperolah sesuatu, dia memandang orang lain lebih berhak memperolehnya dari pada dirinya, sehingga karenanya dia mudah memberikannya.
Pada prakteknya hal ini mengandung makna yang penting, yaitu pertama, ketawakalannya bila tidak memperoleh sesuatu dia ridha, dan bila memperoleh sesuatu adalah cinta, karena “ridha” berarti “menerima jubah kehormatan”. Jubah kehormatan adalah tanda kedekatan, sedangkan pencinta menolak jubah kehormatan karena hal itu merupakan tanda pemisahan.
Kedua, ketawakalannya, bila tidak memperoleh sesuatu, adalah berharap; dan bila memperoleh sesuatu adalah menolaknya. Bila sesuatu yang diharapkan tersebut adalah “selain Allah” maka ditolaknya, juga bila sesuatu yang diperolehnya adalah “selain Allah” maka diapun menolaknya.
Syibli berkata, “Kefakiran adalah lautan kesulitan, dan semua kesulitan demi Dia adalah kemuliaan. Kemuliaan adalah bagian dari “yang lain”. Yang berduka cita tenggelam dalam kesulitan dan tak mengetahui apa-apa tentang kemuliaan, sampai mereka melupakan kesulitannya dan hanya memandang Sang Pencipta.
Kemudian kesulitan mereka berubah menjadi kemuliaan, dan kemuliaan mereka berada dalam keadaan ruhani (waqt). Keadaan ruhani mereka menjadi cinta, dan cinta mereka menjadi tafakur. Hingga akhirnya akal orang yang bercita-cita sepenuhnya menjadi pusat dari penglihatan melalui kuasa imajinasinya. Dia melihat tanpa mata (zahir), dan mendengar tanpa telinga (zahir).
Kemuliaan adalah yang menyebabkan hadirnya seseorang bersama Allah, dan kehinaan adalah yang menyebabkan seseorang jauh dari Allah. Duka cita kefakiran adalah tanda “kehadiran”, sementara nikmat kekayaan adalah tanda “ketidak-hadiran”. Karena itu menurut para penempuh jalan kesucian seseorang hendaknya melibatkan diri dalam tafakur dan pendekatan diri kepada Allah dalam menanggung kesulitan.
Junaid Al Baghdadi mengatakan, “Wahai kaum fakir, kau dikenal melalui Allah dan dihormati demi Allah. Jagalah perilakumu bilamana kau sendirian dengan-Nya. Serendah-rendah manusia adalah dia yang dianggap taat kepada Allah, namun sebenarnya tidak. Sedangkan manusia yang paling mulia adalah dia yang tidak dianggap taat kepada Allah, namun sesungguhnya dia taat.
Dengan makna hakiki kefakiran di ataslah dapat kita renungkan hadits Nabi saw. berikut,”Ya Tuhanku, hidupkanlah aku dalam kefakiran, dan matikanlah aku dalam kefakiran, dan bangkit dari kematian di antara kaum fakir.”
Merasa Puas dan Etos Kerja
Benarkah merasa puas atas karunia Allah akan menyebabkan seorang mu’min rendah etos kerjanya?
Bagi kaum mu’minin, rasa puas akan karunia Allah senantiasa erat kaitannya dengan bersyukur kepada-Nya. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin menyebutkan bahwa bersyukur adalah menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala untuk menaati-Nya serta menjaga agar tidak menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk berbuat maksiat kepada-Nya (Ihya Ulumuddin, 4:72).
Ketaatan kepada Allah SWT dalam pandangan seorang mu’min termasuk untuk menjaga dan memelihara alam semesta beserta tatanan masyarakat manusia. Kesemua kegiatan tadi dilaksanakan dengan tujuan mengabdi dan memuliakan-Nya semata. Keharmonisan alam dan masyarakat menjadi salah satu sasaran perantara yang hendak diwujudkannya dalam kehidupan di dunia.
Perbedaan yang sangat mendasar antara etos kerja seorang mu’min dan non mu’min adalah pada kerangka dasar tujuan pengabdian dan pemuliaannya. Seorang non mu’min (yang tidak beriman kepada Allah) mengabdi pada nafsunya dan melakukan segala kegiatannya dengan tujuan memuliakan dirinya.
Sedangkan seorang mu’min berkegiatan untuk sebuah pengabdian kepada Sang Pencipta dan bertujuan memuliakan Sang Maha Mulia, Allah SWT. Semuanya dilakukannya dengan suatu keyakinan bahwa dengan ke-Rahman-an (Maha Penyayang) dan ke-Rahiman-Nya (Maha Pengasih-Nya), Allah pasti akan menebarkan sedikit percikan Kemuliaan-Nya kepada hambanya yang layak menerimanya.
Semakin puas dan ridha dia atas karunia Allah, maka ketaatan kepada-Nya pun semakin dia tingkatkan. Dan semakin taat dia maka etos kerjanya untuk mengagungkan dan memuliakan Sang Pencipta dengan menebarkan rahmat kepada alam beserta isinya semakin meningkat.
Penutup
Dari pembahasan di atas kita ketahui bahwa kekayaan dalam pandangan hamba yang mu’min bukanlah terletak pada banyak sedikitnya harta yang ‘dimiliki’ oleh seseorang. Kekayaan yang diharapkan oleh seorang mu’min adalah meresapnya rasa cukup atas nikmat karunia Ilahi padanya, ketiadaan ketergantungannya kepada selain Allah, serta Ijin-Nya kepada kita untuk mengerjakan sesuatu yang tidak melanggar Kehendak-Nya.
Sungguh, suatu hal yang sangat tepatlah bila pada saat krisis sekarang ini kita saling menasihati dan mengingatkan satu sama lain untuk menjadikan diri kita ‘orang-orang kaya’ secara hakiki. Karena pada hakikatnya bukanlah materi dan status di hadapan manusia yang menjadi tujuan kita, Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali. (QS. Al Baqarah 2: 156)
Semoga qalbu kita senantiasa diberi pintu kelembutan sehingga masih dapat meresapkan dialog dan munajat kepada Allah SWT sebagaimana kutipan doa Zainal Abidin di awal tulisan ini. Amien.
Wallahu ‘alam bi shawwab.
MEMAGARI SULUK DENGAN SYARIAT
Suluk jika kita ibaratkan sebagai sebuah perjalanan, merupakan perjalanan yang tidak mudah. Imam Al-Ghazali mengibaratkan sebagai jalan licin yang terjal mendaki dan penuh jebakan serta rintangan. Bila kita berhasil maka akan kita peroleh suatu kedudukan seorang hamba yang mulia di sisi Sang Khalik. Namun, bila kurang berhati-hati dalam suluk kita, maka peluang celaka dan binasa bagi kita sungguh besar.
Di antara bekal yang hendaknya kita bawa dalam bersuluk adalah syariat. Syariat dalam hal ini adalah pengetahuan jasadiah tentang Ad-Din yang diamalkan secara lahiriah. Pengetahuan kita yang benar tentang Al-Islam sebagai suatu keberserah-dirian juga hukum-hukum fiqihnya, disertai pemahaman kita yang benar tentang Al-Iman sebagai suatu cahaya Allah.
Pengamalan kita tentang kedua hal itu hendaknya kita sempurnakan dengan pemahaman Ihsan dalam arti kita beribadah seolah-olah melihat Allah, kalaupun tidak melihatnya namun kita meyakini bahwa Allah melihat kita.
Dalam perspektif thariqah, kita mengenal nasihat Seorang Mursyid yang membedakan syariat lahir dan syariat batin. Syariat lahir adalah pemahaman tentang aqidah (tauhid) dan hukum fiqih Islam, sedangkan syariat batin adalah akhlak yang menyempurnakan pelaksanaan hukum fiqih tersebut, antara lain seperti Sabar, Tawakal, Syukur dan Ikhlas.
Syariat lahir bila kita laksanakan secara sempurna akan menjaga hal-hal jasadiah kita dari jebakan-jebakan dalam suluk. Sedangkan syariat batinlah yang menentukan kesempurnaan pencapaian tujuan kita bersuluk.
Syariat Lahir sebagai Pagar
Kisah Syaikh Abdul Qadir Jailani ra.(radhiallahu ‘anhu – semoga Allah meridhoi beliau) yang terselamatkan dari tipu daya Iblis yang mengaku-aku sebagai Tuhan, terjadi karena beliau memiliki pengetahuan syariat lahir yang kokoh dapat memberikan cermin bagi kita betapa penting syariat lahir sebagai salah satu penyelamat kesulukan.
Sungguh tidaklah dibenarkan kita yang bersuluk hanya dengan mengandalkan isyarat-isyarat ghaib yang kita terima dalam hidup kita, baik itu selalu kita konsultasikan kepada Mursyid atau --apalagi-- yang kita interpretasikan sendiri.
Isyarat ghaib yang asing bagi kita, merupakan informasi yang masih bersifat netral, dapat menyempurnakan suluk maupun dapat menjebak dan menjatuhkan suluk kita. Untuk penataan jasadiah (pikiran, emosi, aturan bermasyarakat, bermuamalah, dsb) kita hendaknya menyempurnakan pelaksanaan syariat lahir Islam. Kemudian hal tersebut kita kombinasikan secara tepat dengan penyempurnaan sabar, tawakal, syukur dan ikhlas, sebagai syariat batinnya.
Perpaduan yang tepat dari pemahaman aqidah, pelaksanaan hukum-hukum fiqih dalam kehidupan kita sehari-hari, Insya Allah akan memberikan keamanan bagi kita dalam bersuluk.
Sebagai contoh dalam kasus shalat kita, secara lahiriah QS. 29:45 menyatakan,”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari kekejian dan kemungkaran. Dan sesungguhnya dzikrullah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu yang kamu kerjakan. Sedangkan terkait dengan salah satu tujuan shalat, QS. 20:14 Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan selain-Ku, maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk dzikir kepada-Ku.”
Secara syariat lahir, pengamalan ayat-ayat tersebut adalah dengan kita melaksanakan dengan penuh ketertiban seluruh rukun shalat yang telah diatur dalam fiqih shalat. Dan hal itu kita lakukan dengan tujuan untuk dzikir kepada Allah serta mencegah diri kita dari kekejian dan kemungkaran.
Akal jasad kita dapat melakukan analisis yang menghasilkan kesimpulan ketika kita shalat tetapi jika pikiran kita kemana-mana, tidak konsentrasi pada dzikir (mengingat) Allah, maka kesempurnaan shalat kita belum tercapai.
Atau seandainya kita shalat, namun kita melakukannya dengan tanpa pengetahuan tentang tatacara, rukun, dan hukum-hukumnya yang benar --dengan kata lain ada kemungkaran dalam pelaksanaannya-- , maka sesungguhnya kita juga belum mengamalkan ayat-ayat di atas.
Bila pengamalan Al-Quran belum sempurna kita amalkan, maka perlindungan suluk kita belumlah sempurna kita lakukan. Hal ini akan memperbesar peluang ketersesatan dalam suluk kita, baik secara tersamar atau pun ketersesatan yang sangat jelas.
Di lain sisi, meskipun kita telah melaksanakan tertib hukum maupun rukun shalat berdasarkan hukum fiqih shalat, sekiranya kita tidak menjaga qalb kita dari hal-hal yang merusak keikhlasan, kesabaran, ketawakalan serta kesyukuran maka pensucian nafs (jiwa) yang menjadi proses utama pencapaian tujuan suluk kita juga tidak akan optimal.
Hanya Syariat Semata Juga Berbahaya
Bisakah hanya dengan syariat lahir kita menyempurnakan pencapaian tujuan suluk kita? Mursyid tercinta menasihatkan bahwa tidaklah mungkin tujuan suluk akan tercapai bila kita hanya mengandalkan semata-mata syariat lahir saja. Syariat yang kita laksanakan hendaknya kita sempurnakan dengan thariqah, haqiqat, dan ma’rifat.
Seandainya kita hanya mengandalkan hukum fiqih (syariat lahir) saja, maka hal itu tidak akan mampu mengasah dan mensucikan nafs (jiwa) kita, tidak akan sempurna upaya penghadapan Qalb kita kepada Allah SWT. Hal itu disebabkan nafs maupun qalb adalah sesuatu yang non jasadiah, jadi untuk menyempurnakan pensuciannya bukan hanya dengan syariat lahir semata, melainkan harus disempurnakan dengan pelaksanaan syariat batin kita yang sempurna.
Ketika hukum fiqih kita pegang dengan kuat tanpa mempertimbangkan syariat batin dan hal-hal yang terkait dengan thariqat, haqiqat, dan ma’rifat, maka kita baru menyentuh aspek kulit saja dari suluk, sehingga inti dari suatu suluk belumlah tersentuh. Sungguh tidak masuk akal bila kita hanya menyentuh kulit ingin meraih dan mencapai tujuan suluk kita. Akhir tujuan suluk kita adalah untuk menjadi hamba yang Diadekatkan (muqarrabun). Hal itu memerlukan pelaksanaan yang sempurna dari syariat, thariqat, hakikat, dan ma’rifat.
Sungguh berbahaya kita menjalani suluk bila kita hanya melakukan salah satu aspeknya saja. Bila standar keberhasilan suluk hanya kita ukur dengan kesempurnaan syariat lahir saja, maka banyak hal tentang khazanah Dia Yang Maha Ghaib akan sulit tersingkap. Alih-alih kita menginginkan mencapai tujuan, kita malah menuju ke arah yang menjauhi tujuan suluk tanpa kita sadari. Na’udzubillahi min dzalik!!
Penutup
Bersuluk memang tidak mudah, hal itu sudah kita sadari resikonya sejak awal. Cenderung memusatkan pada aspek syariat lahir saja kurang tepat, berfokus hanya pada hakikat saja juga tidak akan menyempurnakan suluk kita. Sementara menempatkan kombinasi yang harmonis dan proporsional juga bukan perkara yang gampang.
Hal itu, Insya Allah hanya akan dapat terjadi bila kita bersuluk memperoleh rahmat Allah semata. Pemancing rahmat-Nya tersebut dapat kita upayakan dengan cara tidak meninggalkan syariat, serta berhati-hati dalam bimbingan untuk menapak etika serta sistem thariqat, menyingkap rahasia hakikat dan semoga Dia Berkenan memberi pertolongan bagi kita untuk menggapai ma’rifat.
Melaksanakan dengan optimal hal-hal di atas menurut hemat penulis, tidaklah mungkin di zaman ini dengan melakukannya secara sendirian, tanpa berjamaah dengan saudara-saudara kita sesama salik. Sungguh pengibaratan tentang serigala akan dengan mudah menerkam domba yang berjalan keluar dari rombongannya sangat bagus untuk kita jadikan cermin dan bahan renungan perjalanan kita di Sistem Suluk ini.
